August 27, 2014, 06:05:10 AM

Author Topic: SILIWANGI  (Read 4056 times)

farisilmi

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 49
  • Jawara: 0
    • View Profile
SILIWANGI
« on: June 01, 2012, 02:56:48 AM »
Siliwangi (Tulisan Ernest Tenn3ry Rezawijaya)

Jika ditanyakan pd Urang Sunda, nama ini udh bgt melekat pd jiwa raga masyarakat Suku Sunda, dikarenakan nama Siliwangi sudah menjadi simbol kehidupan masyarakatnya.

Siapakah Siliwangi itu ? beragam cerita ttg Siliwangi ini bermunculan di masyarakat, mulai dr cerita " Maung Siliwangi" dimana Prabu Siliwangi berubah wujud menjadi Maung Lodaya yg konon ada di leuweung sancang, Garut. Ada jg yg mengaitkan Siliwangi yg gugur di perang Bubat dll.

Pangeran Wangsakerta, mencatat dlm Nusantara Parwa II Sarga 2 (1678 M), isinya ; " sesungguhnya tdk ada Raja Sunda yg bernama Siliwangi, hanya penduduk Sunda yg menyebut Prabu Siliwangi". Ataupun dlm naskah Kretabhumi 1/4 (1695 M), " Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua penduduk Jawa Barat yg menyebut Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Jd itu bukan pribadinya, jd siapakah namanya Raja Pajajaran ini ?, Raja Pajajaran di nobatkan dgn nama Prabu Guru Dewataprana dan dinobatkan lg dgn nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra dr Rahyang Prabu Dewa Niskala (Ningrat Kancana) berputra Sri Baduga Maharaja Pajajaran yg menurut orang Sunda disebut Prabu Siliwangi " 

Dari naskah2 Pangeran Wangsakerta sangatlah jelas jk yg dimksd Prabu Siliwangi adalah Pangeran Jayadewata, putra dr Prabu Dewa Niskala, cucunya Maharaja Niskala Wastukancana (Prabu Wangisutah atau Anggalarang). yg menjadi banyak pertanyaan knp Pangeran Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja mendapat julukan Prabu Siliwangi, hal ini tdk terlepas dr peperangan yg terjadi di Bubat th 1357 (pustaka Rajya i Bhumi Nusantara II/2) pada saat iring-iringan pengantin Maharaja Linggabuana yg mengantar Putrinya Nyai Dyah Pitaloka yg akan dipersunting Raja Hayam Wuruk dr kerajaan Majapahit, dihadang oleh balatentara Majapahit yg dipimpin langsung oleh Patih Gajahmada. Bentrokan yg hebat antara Pasukan Pengawal Raja Sunda-Galuh tersebut melawan balatentara Majapahit mengakibatkan gugurnya Sang Prabu Linggabuana yg merasa dikhianati oleh Raja Hayam Wuruk. Keberanian Sang Prabu dan para petinggi negara serta prajuritnya berperang demi kehormatan harkat martabatnya sbg sebuah bangsa dan negara membuat kagum para masyarakat Nusantara dan menjulukinya PRABU WANGI.
" Dimedan perang Bubat ia byk membinasakan musuh2nya krn Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yg dipimpin oleh Sang Patih Gajahmada yg jumlahnya tdk terhitung, oleh karena itu ia bersama semua pengiringnya gugur tak tersisa ".
Gugurnya Prabu Linggabuana tdk berarti kekuasaan di Tatar Sunda menjadi vacuum, kemudian Patih Mangkubumi (Sang Prabu Bunisora) mengambil alih kekuasaan utk mengisi pemerintahan di kerajaan Sunda-Galuh. Ini disebabkan pewaris tahta kerajaan Pangeran Niskala Wastukancana masih kecil, serta utk menyelamatkan kerajaan dr kemungkinan serangan berikutnya dr Majapahit. Setelah dimobilisasi kekuatan pasukan angkatan perang baik darat maupun armada laut dipersiapkan utk menyerang balik kerajaan Majapahit, tetapi Raja Hayam Wuruk dgn cepat mengirim utusan ke Kerajaan Sunda-Galuh, bahwa telah terjadi kesalahpahaman di Bubat. Raja Hayam Wuruk menerangkan bahwa ia tdk berniat utk menguasai Bumi Parahyangan dan akan menghukum Patihnya. Sebagai wujud niat baiknya tersebut Raja Hayam Wuruk, menkremasi jasad Prabu Linggabuana beserta para petinggi, tokoh dan para satria Sunda dgn penghormatan agung, lalu abunya dikirim ke Kerajaan Sunda-Galuh.

Kejadian dimedan Bubat tlah menimbulkan duka yg dalam bagi masyarakat Tatar Sunda pada masyarakat Majapahit, sehingga di-"Tabu"-kan bagi kaum Pria Sunda utk memperistri perempuan Jawa.

Patih Mangkubumi lalu menata kembali kehidupan masyarakat Tatar Sunda agar tdk terlalu larut dlm kesedihan, sekaligus memperkuat angkatan perang Sunda-Galuh agar tdk bisa invasi oleh Kerajaan manapun jg, serta membimbing ponakannya Pangeran Niskala Wastukancana agar kelak menjadi raja yg besar, adil, arif dan bijaksana.

Pada th 1371 M Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora, menyerahkan tahta kerajaannya pada Keponakannya, putra dr Prabu Linggabuanawisesa, yaitu Maharaja Niskala Wastukancana. Kekuasaan yg diwariskan oleh pamannya itu atas tanah Tatar Sunda sangatlah besar, krn wilayahnya hampir 1/2 wilayah Pulau Jawa.

Masa pemerintahan Raja Niskala Wastukancana, mengalami masa keemasannya. Kehidupan masyarakatnya pada makmur dan sejahtera, negara aman dan tentram karena Raja Niskala Wastukancana memerintah kerajaan dgn bijaksana. Meskipun Sang Raja mengetahui tentang peristiwa Perang Bubat, tetapi Raja ini tidak berniat utk balas dendam terhadap Majapahit, padahal Kerajaan Majapahit mengalami masa kemunduran akibat perpecahan didalam negerinya, perang Paregreg. Sangatlah kontras dgn Kerajaan Sunda-Galuh yg justru mengalami masa kemansyurannya. Sebagai penerus dr Maharaja Linggabuana yg dijuluki Prabu Wangi, masyarakat pun memberinya julukan "Silih" Prabu wangi dgn gelar Prabu Wangisutah, karena kejayaannya dlm memakmurkan rakyat Kerajaan Sunda-Galuh....
Masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana sangat panjang. Tercatat sejak tahun 1371-1475 masehi. Prabu Niskala Wastukancana memiliki banyak putra, salah satu putranya dari Nai Ratna Sarkati melahirkan Pangeran Susuktunggal alias Sang Haliwungun yang kemudian diberi kekuasaan di wilayah Pakuan. Dari istrinya yang lain, Nai Ratna Mayangsari, melahirkan Pangeran Dewa Niskala atau Ningratkancana yang diberi kekuasaan untuk memerintah di Galuh.

Tercatat pada pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana di sebelah utara wilayah kerajaan tepatnya di daerah Karawang agama Islam sudah datang, pada tahun 1405 masehi Syeikh Hasanudin (Syeikh Quro) datang ke Karawang dan mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Quro. Toleransi kehidupan beragama di wilayah Tatar Sunda terjalin dengan baik. Bahkan Prabu Niskala Wastukancana memiliki cucu-cucu yang menganut agama Islam dari pasangan Jayadewata dengan Nyai Subanglarang (putri dari Ki Gede Tapa, penguasa Bandar Karawang).

Setelah meninggalnya Prabu Niskala Wastukancana, Kerajaan Sunda Galuh dibagi lagi menjadi 2 bagian. Prabu Susuk Tunggal berkuasa di wilayah kerajaan Sunda Pakuan. Sedangkan Prabu Dewa Niskala berkuasa di wilayah Kerajaan Galuh. Pada tahun 1478 masehi Majapahit mengalami masa-masa kehancuran akibat serangan dari Kesultanan Demak, membuat para petinggi dan keluarga kerajaannya mengungsi keluar, salah satunya Raden Baribin (Putra Brawijaya IV) yang mengungsi ke wilayah Kerajaan Galuh. Kedatangan para keluarga dan kerabat Majapahit membuat terganggunya kehidupan keluarga Kerajaan Galuh, disebabkan Raden Baribin dinikahkan dengan Ratu Ayu Kirana (putri Dewa Niskala). Selain itu Sang Prabu Dewa Niskala menikahi gadis larangan yang ikut dalam pengungsian itu masih berstatus tunangan orang, padahal ditabukan untuk menikahi para kerabat atau keluarga Majapahit sejak peristiwa Bubat. Hal inilah yang membuat marah keluarga Kerajaan Sunda atas peristiwa yang dilakukan oleh keluarga Kerajaan Galuh. Keluarga Kerajaan Galuh menganggap bahwa keluarga Kerajaan Pakuan mencampuri urusan dalam negeri, lalu menimbulkan ketegangan yang bisa menyebabkan terjadinya perang saudara diantara kedua kerajaan tersebut. Maka tampillah Jayadewata alias Sang Manah Rasa untuk meredakan ketegangan kedua kerajaan.

Kemudian diadakanlah pertemuan diantara 2 keluarga kerajaan untuk menyelesaikan perselisihan di Galuh. Disepakati masing-masing raja yaitu Prabu Dewa Niskala dan Prabu Susuk Tunggal untuk turun dan menyerahkan tahta kerajaan kepada Jayadewata. Lalu Jayadewata diangkat menjadi raja dan sebagai pemersatu (lagi) kedua kerajaan dengan nama Prabu Guru Dewata Prana dan dinobatkan lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji yang berkuasa di Pakuan tahun 1482 masehi. Sejak itulah nama kerajaan menjadi Pajajaran.

Dalam kropak 630 dicatat sebagai lakon pantun tahun 1518 masehi ketika Sri Baduga masih hidup pada waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai seorang ksatria pemberani dan tangkas (sakti) dan pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Marugul) waktu memenangkan sayembara yang diadakan oleh Ki Gede Tapa untuk menjadi suami Nyai Subang Larang. Dari perkawinan tersebut melahirkan Pangeran Cakrabuana (Walang Sungsang) yang kemudian banyak dijuluki sebagai Ki Samadullah, Abhiseka Sri Magana, atau Haji Abdullah Iman. Yang kedua Putri Lara Santang, yang menikah dengan amir Mesir yang menurunkan Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Putra yang ketiga Pangeran Kian Santang yang disebut Haji Lumajang Kudratullah, Sunan Godog atau Gagak Lumayung.
-bersambung..bisi panjang teuing  ;)-

flams

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 39
  • Jawara: 0
  • @robytiza13
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #1 on: June 01, 2012, 03:38:58 AM »
jadi prabu siliwangi teh saha  :'( :'(   :coli:
- TANPA HATI LEBIH BAIK MATI -

a-change

  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 2487
  • Jawara: -30
  • Persib Nu Aing
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #2 on: June 01, 2012, 03:45:55 AM »
bagianna dumq sareung atlantean ieu mah

udin betrand

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 82
  • Jawara: 0
  • P E R S I B
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #3 on: June 01, 2012, 04:05:55 AM »
aduh,, uing mah sok tunduh lamun maca panjang kos kieu teh..  :beer:
eweuh ide keur nyieun signature

wang tea atuh

  • Budak Baonk
  • **
  • Posts: 147
  • Jawara: 0
  • wang tea @tuh
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #4 on: June 01, 2012, 04:14:47 AM »
Ini Penjelasan untuk Syekh Quro

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur'an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik".

Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.

Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali r.a., menantu Rasulullah SAW.

Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.

Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.

Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa "Bintang Saketi", yaitu simbol dari "tasbih" yang berada di Negeri Makkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.

Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk "joglo" beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.

Dari buku IKTHISAR SEJARAH SINGKAT SYEKH  QUROTUL'AIN
kagabisa pindah kelain hati

flams

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 39
  • Jawara: 0
  • @robytiza13
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #5 on: June 01, 2012, 04:16:25 AM »
aduh,, uing mah sok tunduh lamun maca panjang kos kieu teh..  :beer:

sabari mandi macana asik mang  :D :D :persib: :persib:
- TANPA HATI LEBIH BAIK MATI -

flams

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 39
  • Jawara: 0
  • @robytiza13
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #6 on: June 01, 2012, 04:18:15 AM »
Ini Penjelasan untuk Syekh Quro

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur'an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik".

Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.

Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali r.a., menantu Rasulullah SAW.

Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.

Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.

Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa "Bintang Saketi", yaitu simbol dari "tasbih" yang berada di Negeri Makkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.

Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk "joglo" beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.

Dari buku IKTHISAR SEJARAH SINGKAT SYEKH  QUROTUL'AIN

ALLOHUUUU AKBARRRRRRRRRRRRR !! teu kiat macana panjang teuing  :-X :-X  :vikingpersib: :persib:
- TANPA HATI LEBIH BAIK MATI -

patcoel76

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 11
  • Jawara: 0
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #7 on: June 01, 2012, 04:21:16 AM »
Ini Penjelasan untuk Syekh Quro

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur'an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik".

Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.

Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali r.a., menantu Rasulullah SAW.

Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.

Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.

Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa "Bintang Saketi", yaitu simbol dari "tasbih" yang berada di Negeri Makkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.

Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk "joglo" beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah "menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.
Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.

Dari buku IKTHISAR SEJARAH SINGKAT SYEKH  QUROTUL'AIN


keren gan artikel nya ,
pantesan di karawang ada nama jalan.syeh quro  :alus:

vnqsr

  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 2163
  • Jawara: 6
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #8 on: June 01, 2012, 04:36:00 AM »
maung bandung bukan sekedar maung,, histori dibalik maung yg dihormati masyarakat sunda..

jadi jauh pisan jeung macan kemayoran.. macan kemayoran sejarahna naon?
remove label, show me how it's done

ipeng

  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 2639
  • Jawara: -95
  • PERSIB #1
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #9 on: June 01, 2012, 05:20:46 AM »
aduh,, uing mah sok tunduh lamun maca panjang kos kieu teh..  :beer:

Sami mang  ;D
Sejarah kieu mah,langkung roas na,bari ngumpul ngobrolna janten moal tunduh ;D

warawiri

  • Budak Baonk
  • **
  • Posts: 108
  • Jawara: 0
  • ==In GOD we trust..==
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #10 on: June 01, 2012, 06:43:51 AM »
berarti bisa di artikan bahwa " dari Ujung jawa yang berada di timur sampai dengan ujung jawa yang berada di barat satu keturunan ya..??? majapahit konon didirikan oleh raden wijaya yang merupakan keturunan kerajaan galuh... CMIIW

Asal ulah sakaturunan jeung the jak we, teu harayang aing mah najissss........!!!

farisilmi

  • Budak Lehoan
  • *
  • Posts: 49
  • Jawara: 0
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #11 on: June 01, 2012, 07:00:27 AM »
"Meskipun Sang Raja mengetahui tentang peristiwa Perang Bubat, tetapi Raja ini tidak berniat utk balas dendam terhadap Majapahit, padahal Kerajaan Majapahit mengalami masa kemunduran akibat perpecahan didalam negerinya, perang Paregreg "

tah kalimat ieu nu sigana anu kudu kuurk diceupeung, teu kudu balas dendam da enggke ge hancur sorangan the jak mah, siga majapahit

sireumateul

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1858
  • Jawara: -13
  • BRING BACK OUR GLORY!
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #12 on: June 01, 2012, 07:16:59 AM »
maung bandung bukan sekedar maung,, histori dibalik maung yg dihormati masyarakat sunda..

jadi jauh pisan jeung macan kemayoran.. macan kemayoran sejarahna naon?

sejarah macan kemayoran ada di ragunan mang   :))
SAK NGGATHEL-NGGATHELINE RAIMU
SAK KUDU MISUH-MISUHINE CANGKEMU
KOEN TETEP DULURKU COK!!!
PERSIB MEMILIKI NAMA BESAR TAPI MINIM MOTIVASI UNTUK MENANG!

dumbqhlgns

  • Sundanese
  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 2688
  • Jawara: -7
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #13 on: June 01, 2012, 03:35:06 PM »
bagianna dumq sareung atlantean ieu mah

hihihii..
saleresna mun bicara majapahit, kerajaan sunda dll.
aya sudut pandang nu leuwih mencengangkan deui.
ti sudut pandang kerajaan lain selain majapahit dan ti sudut pandang ekspansi negara eropa saat itu ke daerah "nusantara" :p
hehehe yuk ateuh ah cuang ngadongeng..
 :cun:
« Last Edit: June 01, 2012, 03:37:01 PM by dumbqhlgns »
abdi mah jalmi bebas..

dumbqhlgns

  • Sundanese
  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 2688
  • Jawara: -7
    • View Profile
Re: SILIWANGI
« Reply #14 on: June 01, 2012, 03:36:13 PM »
berarti bisa di artikan bahwa " dari Ujung jawa yang berada di timur sampai dengan ujung jawa yang berada di barat satu keturunan ya..??? majapahit konon didirikan oleh raden wijaya yang merupakan keturunan kerajaan galuh... CMIIW

Asal ulah sakaturunan jeung the jak we, teu harayang aing mah najissss........!!!

hate to say, tapi saketurunan mang.. :p
 
abdi mah jalmi bebas..