April 23, 2014, 05:03:56 PM

Author Topic: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG  (Read 14908 times)

joni kemod

  • Super Moderator
  • Cybertroops Wannabe
  • *
  • Posts: 1238
  • Jawara: 11
  • la la la the jak anjing the jak the jak anjing
    • View Profile
MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« on: June 14, 2010, 12:33:14 PM »
Quote
DUA SISI KETAJAMAN

Secara umum, senjata ini telah diakui sbg milik asli urang sunda & menjadi ciri khas masyarakat jawa barat+banten. Dlm perkembangannya, seiring kemajuan teknologi & budaya suatu negri, fungsi & kegunaan senjata tradisional mulai bergeser. Kujang yg dulunya berfungsi sbg senjata perang & alat pertanian, saat ini sdh bergeser menjadi sekedar hiasan & cindera mata. Di beberapa tempat pengrajin cindera mata, senjata ini dikemas agar lebih berkelas dg teknik pembuatan yg modern. Ini jg salah satu cara & langkah utk melestarikan senjata tradisional.

Setiap daerah di indonesia memiliki senjata khas unik & mengandung nilai sejarah tersendiri. Senjata khas itu dlm riwayat sejarahnya menjadi alat utk perang, mempertahankan wilayah, maupun menjaga diri. Indonesia yg dikenal kaya raya akan alam & budaya memiliki beragam jenis senjata tradisional. Setiap daerah atau suku bangsa memiliki senjata tradisional, spt jawa tengah & daerah istimewa yogyakarta dg senjata kerisnya, jawa timur dg clurit nya, bali & nusa tenggara barat jg dg keris khas daerah itu, sundu di nusa tenggara timur, mandau di kalimantan barat & timur, sementara kujang adalah senjata khas milik jawa barat+banten (sunda).

Kujang adalah sebuah senjata yg unikdari segi bentuk & sejarahnya. senjata tradisional jawa barat+banten ini, memang tak sepopuler keris atau beberapa senjata lain di bumi nusantara ini, meskipun kujang bisa dimasukkan jenis keris yaitu keris khas tanah pasundan.

Mungkin krn masyarakat jawa barat+banten sendiri sdh tidak banyak yg menyimpan kujang & tdk banyak orang yg tahu sejarah masa lalu, serta nilai2 lain yg terkandung dlm senjata ini. Sumber lain berupa tulisan ttg senjata ini pun sangat jarang ditemui.

Spt halnya keris jawa, kujang jg bermata 2. kedua sisinya sama2 tajam, hanya bentuknya yg berbeda. Kujang memiliki ornamen spt lubang2 kecil & bergerigi atau lekukan pd salah satu sisinya. Lubang2 kecil itu berbeda2, ada yg 3 lubang & ada yg 5 lubang.

Ketajaman di kedua belah sisi tsb mempunyai makna & filosofis tersendiri bagi masyarakat sunda. Yaitu : seiring dg kandungan 2 makna yg merefleksikan adanya 2 sisi ketajaman kritis dlm kehidupan, baik kehidupan individu maupun kolektif atau sosial kemasyarakatan.

MILIK URANG SUNDA

Spt halnya keris ataupun senjata tradisional lainnya semisal golok, mandau, atau rencong, kujang jg digunakan sbg senjata perang. Terutama saat bumi nusantara ini msh terdiri dari kerajaan2.

Spt pd jaman kerajaan pajajaran, kerajaan terbesar di tanah pasundan. Para petinggi kerajaan hingga prajurit bahkan rakyat jelata, menggunakan kujang sbg senjata utk berperang, mempertahankan diri, bahkan keperluan pertanian & rmh tangga.

Sebenarnya melalui senjata kujang inilah kebesaran kerajaan pajajaran di masa lampau dapoat ditelusuri. Namun krn minimnya literatur, menjadi banyak kendala utk mengungkap itu semua. Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi para peneliti sejarah.

Hampir semua lapisan masyarakat sunda mengenal kujang sbg senjata tradisional mrk. Namun, tdk banyak diantara mrk yg bisa menjelaskan hal ikhwal senjata khas itu. Dan kemungkinan besar literatur tentang kujang malah berbahasa asing yg notabene dibuat atau ditulis oleh orang luar.

Fungsi kujang sbg alat atau senjata perang berlaku hingga perang kemerdekaan. Prabu siliwangi adalah salah satu tokoh pahlawan nusantara yg gigih mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Senjata kujang selalu dibawa setiap kali berangkat ke medan perang. kujang jg menjadi teman setia bagi para pembesar kerajaan pada masa itu, yg slalu terselip di pinggang.

LAMBANG KEBANGGAAN

Kujang menjadi kebanggaan masyarakat jawa barat+banten. Utk melestarikannya, senjata khas ini dijadikan perlambang lembaga, baik pemerintah maupun swasta. Ini merupakan upaya pelestarian nilai2 yg terkandung di dlm nya.

Lihat saja lambang atau simbol pemerintah daerah provinsi jawa barat, universitas siliwangi, semuanya menggunakan gambar kujang. Bahkan benda tajam ini menjadi nama perusahaan pupuk & semen raksasa yaitu pupuk kujang & semen kujang. Produk pupuk & semen kujang sudah sampai ke hampir seluruh nusantara, sementara tidak banyak orang tahu bahwa nama itu diambil dari senjata tradisional khas sunda.

Penggunaan nama & lambang ini tentu krn kujang mempunyai keistimewaan. Di samping merupakan senjata khas yg tdk ditemukan di daerah lain, benda ini juga dianggap sakral oleh sebagian masyarakatnya.

Sbg senjata pusaka orang sunda, KUJANG MELAMBANGKAN KEKUATAN & KEBERANIAN UTK MELINDUNGI HAK & KEBENARAN. INILAH YG DITANAMKAN NENEK MOYANG ORANG SUNDA.

bagi masyarakat kota bogor-jawa barat, kujang tidak asing lagi, krn diabadikan menjadi tugu bogor atau yg dikenal tugu kujang. Tugu ini didirikan utk menghormati peresmian ibukota pakuan dari kerajaan pajajaran yg dipimpin Prabu Siliwangi. Sebelum diganti tugu kujang, tugu ini merupakan tugu pengembalian kota bogor dari tangan penguasa inggris ke tangan belanda pd thn 1836 yg dulu terletak di pertigaan jalan ahmad yani-sudirman ( air mancur ). Kemudian diganti & dipindah di simpang tiga jalan raya pajajaran-otista-baranang siang.


Source : on group Facebook ( MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG )
OUR TRIBUNE OUR RULES !!

 :finger: :finger: :finger: :finger:

joni kemod

  • Super Moderator
  • Cybertroops Wannabe
  • *
  • Posts: 1238
  • Jawara: 11
  • la la la the jak anjing the jak the jak anjing
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #1 on: June 14, 2010, 12:35:10 PM »
Quote
Pengantar
Jawa adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan “daerah asal” orang Jawa semata karena di sana ada orang Sunda yang berdiam di bagian barat Pulau Jawa (Jawa Barat). Mereka (orang Sunda) mengenal atau memiliki senjata khas yang disebut sebagai kujang. Konon, bentuk dan nama senjata ini diambil dari rasa kagum orang Sunda terhadap binatang kud hang atau kidang atau kijang yang gesit, lincah, bertanduk panjang dan bercabang, sehingga membuat binatang lain takut.

Apabila dilihat dari bentuk dan ragamnya, kujang dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) kujang ciung (kujang yang bentuknya menyerupai burung ciung); (2) kujang jago (kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago); (3) kujang kuntul (kujang yang bentuknya menyerupai burung kuntul); (4) kujang bangkong (kujang yang bentuknya menyerupai bangkong (kodok)); (5) kujang naga (kujang yang bentuknya menyerupai ular naga); (6) kujang badak (kujang yang bentuknya menyerupai badak); dan (6) kudi (pakarang dengan bentuk yang menyerupai kujang namun agak “kurus”). Sedangkan, apabila dilihat dari fungsinya kujang dapat pula dibagi menjadi beberapa macam, yaitu: (1) kujang sebagai pusaka (lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan); (2) kujang sebagai pakarang (kujang yang berfungsi sebagai senjata untuk berperang); (3) kujang sebagai pangarak (alat upacara); dan (4) kujang pamangkas (kujang yang berfungsi sebagai alat dalam pertanian untuk memangkas, nyacar, dan menebang tanaman).

Struktur Kujang
Sebilah kujang yang tergolong lengkap umumnya terdiri dari beberapa bagian, yaitu: (1) papatuk atau congo, yaitu bagian ujung yang runcing yang digunakan untuk menoreh atau mencungkil; (2) eluk atau siih, yaitu lekukan-lekukan pada badan kujang yang gunanya untuk mencabik-cabik tubuh lawan; (3) waruga yaitu badan atau wilahan kujang; (4) mata[1], yaitu lubang-lubang kecil yang terdapat pada waruga yang jumlahnya bervariasi, antara 5 hingga 9 lubang. Sebagai catatan, ada juga kujang yang tidak mempunyai mata yang biasa disebut sebagai kujang buta; (5) tonggong, yaitu sisi tajam yang terdapat pada bagian punggung kujang; (6) tadah, yaitu lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang; (7) paksi, yaitu bagian ekor kujang yang berbentuk lancip; (8) selut, yaitu ring yang dipasang pada ujung gagang kujang; (9) combong, yaitu lubang yang terdapat pada gagang kujang; (10) ganja atau landaian yaitu sudut runcing yang mengarah ke arah ujung kujang; (11) kowak atau sarung kujang yang terbuat dari kayu samida yang memiliki aroma khas dan dapat menambah daya magis sebuah kujang; dan (12) pamor berbentuk garis-garis (sulangkar) atau bintik-bintik (tutul) yang tergambar di atas waruga kujang. Sulangkar atau tutul pada waruga kunjang, disamping sebagai penambah nilai artistik juga berfungsi untuk menyimpan racun[2].

Sebagai catatan, terdapat beberapa pengertian mengenai kata pamor. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), pamor adalah: baja putih yang ditempatkan pada bilah keris dan sebagainya; lukisan pada bilah keris dan sebagainya dibuat dari baja putih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:720) disebutkan bahwa pamor adalah baja putih yang ditempakan pada bilah keris dan sebagainya atau lukisan pada bilah keris dan sebagainya dibuat dari baja putih. Dalam Kamus Basa Sunda karangan Satjadibrata (1954:278) disebutkan bahwa pamor adalah “ngaran-ngaran gurat-gurat nu jiga gambar (dina keris atawa tumbak) jeung dihartikeun oge cahaya” yang artinya “pamor adalah nama garis yang menyerupai gambar (baik yang terdapat dalam keris ataupun mata tumbak) juga pamor dapat diartikan cahaya). Dalam bahasa Kawi, berarti campuran atau percampuran. Dan, dalam Enskilopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400) disebutkan bahwa pamor adalah permukaan bilah keris yang dipercaya mengandung khasiat baik atau khasiat buruk. Pamor yang berkhasiat baik adalah pamor yang dapat memberi keselamatan kepada pemilik atau pemakainya. Sedangkan pamor yang berhasiat buruk adalah pamor yang membawa sial atau ingin membunuh musuh atau bahkan pemiliknya sendiri.

Selain itu, Ensiklopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400) juga menyebutkan bahwa pamor berarti benda-benda yang berasal dari luar angkasa yang digunakan sebagai bahan pembuat kujang. Benda-benda luar angkasa dapat dibedakan menjadi: (1) meteorit, yaitu benda yang mengandung besi dan nikel yang bila dijadikan kujang akan berwarna putih keabu-abuan (pamor bodas). Pamor ini berkhasiat memberikan keselamatan; (2) siderit, yaitu benda yang hanya mengandung baja sehingga bila dijadikan kujang akan berwarna hitam (pamor hideung). Pamor ini biasanya berkhasiat buruk dan membahayakan; dan (3) aerolit, yaitu benda yang apabila telah dijadikan kujang akan berwarna kuning (pamor kancana).

Pamor yang terdapat pada senjata kujang diperkirakan berjumlah sekitar 87 jenis, yaitu: kembang pala, saleunjeur nyere, kenong sarenteng, malati sarenteng, padaringan leber, hujan mas, kemban lo, batu demprak, ngulit samangka, kembang lempes, malati nyebar, simeut tungkul, sinom robyong, beas mawur, baralak ngantay, sagara hieum, nuju gunung, rambut keli, mayang ligar, kembang kopi, tunggul wulung, kembang angkrek, tundung, sungsum buron, simbar simbar, sangga braja, poleng, ombak sagara, pulo tirta, manggada, talaga ngeyembeng, keureut pandan, tambal wengkon, huntu cai, bawang sakeureut, cucuk wader, gunung guntur, gajih, sanak, ngarambut, raja di raja, janus sinebit, kota mesir, lintang kemukus, kembang tiwu, sisit sarebu, tunggak semi, oray ngaleor, pari sawuli, sumur sinaba, selo karang, lintang purba, sumber, prabawa, pangasih, raja kam kam, riajah, bala pandita, pancuran mas, sumur bandung, adeg tilu, tangkil, kendagan, buntel mayit, kembang pakis, dua warna, karabelang, manggar, pandhitamangun suka, borojol, bugis, gedur, tunggak semi, tambol, tumpuk, sekar susun, huntu simeut, raja temenang, pulo duyung, bulan lima, pupus aren, wulan wulan, ruab urab, singkir ros tiwu, dan rante.

Pada zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, orang yang ahli dalam membuat kujang disebut Guru Teupa. Dalam proses pembuatan sebilah kujang seorang Guru Teupa harus mengikuti aturan-aturan tertentu agar kujang dapat terbentuk dengan sempurna. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah mengenai waktu untuk memulai membuat kujang yang dikaitkan dengan pemunculan bintang di langit atau bintang kerti. Selain itu, selama proses pengerjaan kujang Guru Teupa harus dalam keadaan suci dengan cara melakukan olah tapa (puasa) agar terlepas dari hal-hal yang buruk yang dapat membuat kujang yang dihasilkan menjadi tidak sempurna. Dan, seorang Guru Teupa harus memiliki kesaktian yang tinggi agar dapat menambah daya magis dari kujang yang dibuatnya. Sebagai catatan, agar sebuah kujang memiliki daya magis yang kuat, biasanya Guru Teupa mengisinya dengan kekuatan gaib yang dapat bersifat buruk atau baik. Kekuatan gaib yang bersifat buruk atau jahat biasanya berasal dari roh-roh binatang, seperti harimau, ular, siluman dan lain sebagainya. Sedangkan kekuatan gaib yang bersifat baik biasanya berasal dari roh para leluhur atau guriyang.

Kelompok Pemilik Kujang
Konon, pada zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, senjata kujang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan status sosialnya[3] dalam masyarakat, seperti: raja, prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa, golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan bagi rakyat kebanyakan, hanya boleh mempergunakan senjata tradisional atau pakakas, seperti golok, congkrang, sunduk, dan kujang yang fungsinya hanya digunakan untuk bertani dan berladang.

Setiap orang atau golongan tersebut memiliki kujang yang jenis, bentuk dan bahannya tidak boleh sama. Misalnya, kujang ciung yang bermata sembilan buah hanya dimiliki oleh Raja, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan kujang ciung yang bermata lima buah hanya boleh dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis dan Bupati Pakuan. Selain oleh ketiga golongan tersebut, kujang ciung juga dimiliki oleh para tokoh agama. Misalnya, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh para pandita atau ahli agama, kujang ciung bermata lima buah dimiliki oleh para Geurang Puun, kujang ciung bermata tiga buah dimiliki oleh para Guru Tangtu Agama, dan kujang ciung bermata satu buah dimiliki oleh Pangwereg Agama. Sebagai catatan, para Pandita ini sebenarnya memiliki jenis kujang khusus yang bertangkai panjang dan disebut kujang pangarak. Kujang pangarak umumnya digunakan dalam upacara-upacara keagamaan, seperti upacara bakti arakan dan upacara kuwera bakti sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh negeri.

Begitu pula dengan jenis-jenis kujang yang lainnya, seperti misalnya kujang jago, hanya boleh dimiliki oleh orang yang mempunyai status setingkat Bupati, Lugulu, dan Sambilan. Jenis kujang kuntul hanya dipergunakan oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu, Patih Jaba, dan Patih Palaju) dan Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paseban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero). Jenis kujang bangkong dipergunakan atau dibawa oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, dan Guru Cucuk. Jenis kujang naga dipergunakan oleh para Kanduru, Para Jaro (Jaro Awara, Jaro Tangtu, dan Jaro Gambangan). Dan, kujang badak dipergunakan oleh para Pangwereg, Pamatang, Panglongok, Palayang, Pangwelah, Baresan, Parajurit, Paratutup, Sarawarsa, dan Kokolot.

Sedangkan, kepemilikan kujang bagi kelompok wanita menak (bangsawan) dan golongan wanita yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu, misalnya Putri Raja, Putri Kabupatian, Ambu Sukla, Guru Sukla, Ambu Geurang, Guru Aes, dan para Sukla Mayang (Dayang Kabupatian), kujang yang dipergunakan adalah kujang ciung dan kujang kuntul. Sementara untuk kaum perempuan yang bukan termasuk golongan bangsawan, biasanya mereka mempergunakan senjata yang disebut kudi. Senjata kudi ini berbahan besi baja, bentuk kedua sisinya sama, bergerigi dan ukurannya sama dengan kujang bikang (kujang yang dipergunakan wanita) yang langsing dengan ukuran panjang kira-kira satu jengkal (termasuk tangkainya).

Cara Membawa Kujang
Sebagai sebuah senjata yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan-kekuatan magis tertentu, maka kujang tidak boleh dibawa secara sembarangan. Ada cara-cara tertentu bagi seseorang apabila ia ingin pergi dengan membawa senjata kujang, diantaranya adalah: (a) disoren, yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk atau tali pengikat yang dililitkan di pinggang. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara disoren ini biasanya adalah kujang yang bentuknya lebar (kujang galabag), seperti: kujang naga atau kujang badak; (b) ditogel, yaitu dibawa dengan cara diselipkan pada sabuk bagian depan perut tanpa menggunakan tali pengikat. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara demikian biasanya adalah kujang yang bentuknya ramping (kujang bangking), seperti kujang ciung, kujang kuntul, kujang bangkong, dan kujang jago; (c) dipundak, yaitu dibawa dengan cara dipikul tangkaian di atas pundak, seperti memikul tumbak. Kujang yang dibawa dengan cara demikian adalah kujang pangarak, karena memiliki tangkai yang cukup panjang; dan (d) dijinjing, yaitu membawa kujang dengan cara ditenteng atau dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara seperti ini biasanya adalah kujang pamangkas atau kujang yang tidak memiliki kowak atau warangka.

Nilai Budaya
Pembuatan kujang, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk kujang yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kujang yang indah dan sarat makna. (pepeng)

Sumber:
Nandang. 2004. Senjata Tradisional Jawa Barat. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

R. Satjadibrata. 1954. Kamus Basa Sunda. Citakan ka-2. Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P dan K.

Edi S Ekadjati (ed). 2000. Ensiklopedi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya

Kamus Umum Basa Sunda. 1975. Bandung: Ternate.

[1] Mata pada kujang melambangkan Mandala, yang menurut agama Sunda Wiwitan adalah merupakan “dunia” yang akan dilalui oleh setiap manusia, yaitu: Mandala Kasungka, Mandala Parmana, Mandala Kama, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Sama dan Mandala Agung. Pada masa Kerajaan Pajajaran jumlah mata pada sebilah kujang bergantung pada status pemiliknya. Misalnya, kujang yang bermata sembilan hanya dimiliki oleh Raja, kujang yang bermata tujuh hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan kujang yang bermata lima hanya dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis, dan Bupati Pakuan.

[2] Racun yang digunakan untuk menambah khasiat atau tuah sebuah kujang biasanya terbuat dari peurah atau “bisa binatang” dan getah tumbuh-tumbuhan. Peurah biasanya diambil dari ular tiru, ular tanah, ular gibug, dan kala jengking kalajengking. Sedangkan getah tumbuhan biasanya diambil dari akar leteh, geutah caruluk (enau), dan serbuk daun rarawea.

[3] Tingkatan status sosial dalam masyarakat Sunda pada masa Kerajaan Pajajaran, adalah sebagai berikut:
(1) Raja
(2) Lengser dan Brahmesta
(3) Prabu Anom (putera mahkota)
(4) Bupati Panekes dan Balapati
(5) Girang Seurat
(6) Bupati Pakuan dan Bupati Luar Pakuan
(7) Patih, Patih Tangtu, dan Matri Paseban
(8) Lulugu
(9) Kanduru
(10) Sambilan
(11) Jaro dan Jaro Tangtu
(12) Baresan, Guru, dan Pangwereg
(13) Kokolot.

Source : uun-halimah.blogspot.com
OUR TRIBUNE OUR RULES !!

 :finger: :finger: :finger: :finger:

joni kemod

  • Super Moderator
  • Cybertroops Wannabe
  • *
  • Posts: 1238
  • Jawara: 11
  • la la la the jak anjing the jak the jak anjing
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #2 on: June 14, 2010, 12:41:26 PM »
Quote
upami dina struktur Meta kosmik Kujang aya 2 bagian, nyaeta Dati Diri Kujang, sareng jati nagara Kujang, pami Combong ( Combong = suwung / abstrak ) nendeskeun kana tingkatan Elmu
Combong 1 = Ngaherang
Combong 2 = Lumenggang
Combong 3 = Gumulung
Combong 4 = GumeterCombong 5 = Mangrupa
Combong 6 = Usik
Combong 7= Malik ( Kolot)
Combong 8 = Ngora ( Ngajadi )
Combong 9 = Medal
Combong 10 Nunggal = teu aya liang ( Buta )
OUR TRIBUNE OUR RULES !!

 :finger: :finger: :finger: :finger:

inumat

  • Super Moderator
  • Cybertroops Elite
  • *
  • Posts: 5199
  • Jawara: 39
  • BETWEEN PERSIB AND GOD
    • View Profile
    • inumat On Twitter
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #3 on: June 14, 2010, 12:56:08 PM »
tambihan pic na atuh om edo...
SUSIS GARIS KERAS
NU TEU SUSIS, LAIN BUDAK VIKING CYBER

joni kemod

  • Super Moderator
  • Cybertroops Wannabe
  • *
  • Posts: 1238
  • Jawara: 11
  • la la la the jak anjing the jak the jak anjing
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #4 on: June 14, 2010, 01:53:44 PM »
SPOILER FOR GAMBAR KUJANG
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Spoiler for Hiden:
Kujang ciung perah gajah duduk
Spoiler for Hiden:
kujang ciung perah ceker kidang
Spoiler for Hiden:
kujang ciung perah gajah sungkem
Spoiler for Hiden:
TOS AH CAPPE !!!  :( :(
« Last Edit: June 14, 2010, 01:58:36 PM by edo_ramdhani »
OUR TRIBUNE OUR RULES !!

 :finger: :finger: :finger: :finger:

inumat

  • Super Moderator
  • Cybertroops Elite
  • *
  • Posts: 5199
  • Jawara: 39
  • BETWEEN PERSIB AND GOD
    • View Profile
    • inumat On Twitter
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #5 on: June 14, 2010, 03:09:15 PM »
alhamdulillah,,,beres oge macana tiluhur dugi ka handap...
SUSIS GARIS KERAS
NU TEU SUSIS, LAIN BUDAK VIKING CYBER

deden jebred

  • Cybertroops Elite
  • *****
  • Posts: 4087
  • Jawara: -75
    • View Profile
    • http://zalfazahira.blogspot.com
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #6 on: June 14, 2010, 05:57:17 PM »
walah..mang edo mantep-mantep thread na....tingkatkeun, mank..

Bob_Sepers

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1136
  • Jawara: 19
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #7 on: June 14, 2010, 06:27:08 PM »
Quote
Sbg senjata pusaka orang sunda, KUJANG MELAMBANGKAN KEKUATAN & KEBERANIAN UTK MELINDUNGI HAK & KEBENARAN. INILAH YG DITANAMKAN NENEK MOYANG ORANG SUNDA.

Cerminan urang sunda.
Sejak lahir darahku telah biru. Nama Persib telah terpatri dalam ragaku dan telah tertanam dalam jiwaku. Kan ku korbankan seluruh jiwa dan ragaku untuk Persib Maung Bandung.

boho

  • Budak Baonk
  • **
  • Posts: 368
  • Jawara: 3
    • View Profile
    • Pesbuk na si Boho
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #8 on: June 14, 2010, 08:24:58 PM »
kuring bangga jadi urang sunda :vikingpersib:
Memasyarakatkan Metal, Memetalkan Masyarakat

ujenk pablo

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1679
  • Jawara: -37
  • aing biru,aing bodas,aing persib
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #9 on: June 14, 2010, 08:39:27 PM »
basa keur gawe di jakarta mah..urg di bekelan kujang ku aki urg..
alhamdulillah nepi ka ayeuna aya keneh di imah

sarkiyam

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1708
  • Jawara: -34
  • asup asup empel dem dem dem !!!
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #10 on: June 14, 2010, 08:40:16 PM »
babeh urg ngoleksi kujang..di imah aya 20 siki

DUKUNG PERSIB MAKE AKAL & LOGIKA

dudhy

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1112
  • Jawara: 18
  • ,,BIRU,,
    • View Profile
    • http://dudhynanda.blogspot.com
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #11 on: June 14, 2010, 09:48:18 PM »
mantap bos,,,,nice post!!,,,
"LEBIH BAIK DIASINGKAN DARIPADA MENYERAH PADA KEMUNAFIKAN" ( GIE )



http://facebook.com/dudhy.f.erlanda

boutiew

  • Budak Baonk
  • **
  • Posts: 429
  • Jawara: 12
  • Makan Adalah Ibadah
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #12 on: June 14, 2010, 10:18:51 PM »
babeh urg ngoleksi kujang..di imah aya 20 siki

bagi 1
Minum saja selagi haus

kobi75

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1196
  • Jawara: 10
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #13 on: June 14, 2010, 11:00:40 PM »
Hatur nuhun infona..sae pisan

ianzz

  • Cybertroops Wannabe
  • ****
  • Posts: 1580
  • Jawara: 60
  • D:\My document\Video\ BB17+adult only
    • View Profile
Re: MENGGALI SEJARAH & PILOSOFIS PUSAKA KUJANG
« Reply #14 on: June 15, 2010, 01:16:21 AM »
mikin bangga jadi urang sunda... ;)

'''viva la PERSIB Bandung'''